Skip to main content

bab 3

 

“Ini lengkapkah sudah bumbunya? Bekapulagalah? Bekembang lawang, gaganti, adas manis?”

“Ibuk cuma bilang lengkap, Nek. Ndak bilang detailnya,” ucap Hana menyerahkan bungkusan pada Neneknya.

Ay, kada nyaman amun kada utuh. Coba pang takuni Mamak ikam.” [7]

Hana menyerahkan ponselnya setelah terdengar suara Ibuk dari seberang. Nenek duduk tenang di dalam rumah, menanyakan perihal bumbu soto Banjar, sementara Hana bersandar di bangku rotan panjang di teras rumah.

Nenek memiliki tiga anak lelaki. Anak pertama tinggal di luar kota, anak kedua adalah ayah Hana, dan anak ketiga meninggal sewaktu kecil. Rumah nenek merupakan bangunan tua dengan sentuhan khas era Belanda. Sehari-hari, Nenek hanya sendiri di rumah itu. Nenek tidak mau diajak tinggal bersama Ibuk, atau anaknya yang lain. Rumah itu punya banyak kenangan, dan Nenek memilih hidup bersama kenangannya. Lingkungan tempat tinggal Nenek juga nyaman, dan bisa memberikan keamanan. Bagi Nenek, selama Ibuk masih sering mampir dan menengoknya, maka itu sudah cukup.

Setelah menuntaskan obrolan dengan Ibuk di telepon, Nenek berjalan tertatih ke arah teras. Wajahnya menunjukkan rasa puas.

“Hana kada begawi kah?”[8] tanya Nenek.

“Ini Minggu, Nek,” balas Hana.

“Nah, iya ya. Nenek lupa. Kayak apa kerjaanmu? Nyaman aja kah?” tanya Nenek lagi.

“Alhamdulillah. Nyaman aja,” kata Hana.

“Pokoknya sabar-sabar aja. Abahmu dulu kerja dari bawah juga,” kata Nenek. Maksudnya, anak-anaknya selalu merintis karier dari bawah, dan menurut Nenek hal itu tidak masalah sama sekali.

Hana membantu Nenek berjalan ke bangku rotan, meski Nenek merasa cukup kuat.

"Lama sudah Abahmu ndak ada, ya. Kalau ada dia, pasti tiap hari ke sini. Jenguk Nenek, ajak jalan-jalan."

Hana mengiyakan itu. Dia juga ingin mengajak Nenek jalan-jalan. Mungkin nanti, kalau ia sudah gajian.

[ ]

 

“Iya. Sherli, Anita, Gina.”

Sepanjang koridor SMA, Hana menyapa anak-anak. Dia sudah berjanji akan mengingat nama-nama mereka. Anehnya, kelas yang sering bermasalah justru paling mudah diingat, seperti kelas XII dan XI, sementara nama-nama murid di kedua kelas X sempat terbata-bata di memori Hana. Murid perempuan lebih cepat ia ingat, karena jumlah mereka yang sedikit. Mereka juga lebih ramah, lebih penurut.

Hal unik yang Hana temukan di sekolah itu adalah: para murid perempuan hanya akan berkelompok berdasarkan kelas mereka, sementara murid laki-laki mengabaikan unsur kelas dan usia. Tidak ada senioritas di antara mereka. Kalau mau kumpul, ya kumpul saja.

“Apa kabar, Jamal, Bandi, Mulanggar?” sapa Hana.

Para murid laki-laki itu menjadi berisik karena tidak menyangka Hana tahu nama mereka.

“Fendi, Guntur, Junaedi, permisi ya.”

Kadang anak-anak berkumpul semaunya, bahkan di tengah koridor pun mereka menggelar obrolan.

“Ih, dia tahu namaku.”

“Pasti diingat namamu, kamu berandalan.”

“Kayak kamu nggak!”

Hana mendengarkan sembari melanjutkan langkah. Matanya menyisir keadaan. Beberapa anak laki-laki memakai anting, dan hanya sedikit yang segera melepasnya ketika Hana lewat. Sementara itu, sebagian menatap Hana seakan menantang—seolah yang lewat barusan bukanlah seorang guru, melainkan anak tetangga. Mereka juga lebih berani membincangkan Hana di dekatnya, dengan mengganti sebutan ‘Ibu Hana’ menjadi ‘dia’. Bagaimanapun, setiap kelas punya atmosfer dan tantangan yang berbeda. Hana juga tidak buru-buru mendatangi pemiik wajah-wajah yang menantang itu, dan memutuskan untuk menyampaikan nama-nama mereka pada wali kelas serta mendiskusikan perilaku kedisiplinan semata.

Siang itu, tidak banyak guru yang duduk di ruang guru. Sepertinya masing-masing sudah memiliki kesibukan di tempat lain, sehingga datang hanya sesuai jadwal mereka saja. Hana memiliki jadwal ajar beberapa jam lagi. Dia senang bisa datang lebih awal, untuk mempersiapkan materi atau membaca situasi kelas. Alasan lain: karena harus bergantian kendaraan dengan Ibuk.

Bang Kasim yang melihat Hana tidak memasuki kelas, tiba-tiba meminta bantuannya untuk membersihkan aula. Hana baru tahu kalau SMA memiliki aula. Rupanya itu adalah kelas kosong yang dipenuhi kursi sara bara, tumpukan poster dan prakarya rusak, serta—sudah pasti—debu.

Pak Irham sudah berada di ruangan itu untuk memindahkan kursi.

"Bu Hana? Alhamdulillah, ada yang bisa bantu. Begini, Pak Ghozali dan saya berencana membuat ruangan ini menjadi aula, Bu. Insya Allah kita bisa pakai saat Ramadan tiba. Tadinya saya pikir ruangan ini cuma debu saja masalahnya. Ternyata—" Pak Irham tidak melanjutkan pernyataannya, karena Hana sudah bisa melihat kekacauan dalam ruangan itu.

Bang Kasim mengusulkan agar beberapa murid lelaki diperbantukan jika ingin lekas selesai, mengingat Pak Irham dan Hana memiliki jadwal ajar nantinya.

Tiga orang murid laki-laki pun tiba: Zul dan Bandi dari kelas XI, serta Marlan dari kelas XII. Murid dari kedua kelas X tidak mendapat izin keluar. Hana hanya ditemani Ramlah untuk membereskan barang-barang ringan yang berserakan, menyapu, mengelap debu, hingga mengepel lantai.

Para murid lelaki mengusulkan agar kursi ditumpuk menjulang saja, daripada dikeluarkan, karena tidak ada tempat untuk menyimpannya di luar. Pak Irham menyetujui ide itu.

Kerja bakti dadakan itu justru terasa menyegarkan bagi semua, apalagi Ramlah menyiapkan bingka, mageli, dan es jeruk.

"Kalian senang bantu Bapak bukan karena nggak belajar, kan?" tanya Pak Irham.

"Nggak dong, Pak!" sahut mereka serempak.

Entah benar atau tidak, bukan hal yang perlu digali. Sembari bekerja, ketiga bocah itu mengisinya dengan kelakar dan bermain peran. Mereka berlagak menjadi ksatria dengan sapu sebagai pedang, menjadi raja yang duduk di singgasana tumpukan kursi, atau pelayan dengan kain di bahu. Hana dengan terpaksa ‘menebas’ gagang sapu Marlan, karena pemuda itu sedang memasang kuda-kuda untuk mengayun ‘pedang’ di depan Hana. Pak Irham dan Kasim bergantian mengumpulkan sampah dari barang-barang rusak tak terpakai. Tibalah bagian akhir pembersihan ruangan, yakni mengepel lantai. Hana dan Ramlah seketika melepas alas kaki mereka. Sementara itu, ketiga murid diminta kembali ke kelas masing-masing.

Meski melelahkan, bagi Hana kegiatan itu terasa memuaskan. Dulu, ia pernah memiliki bayangan tentang mengajar di desa terpencil, dikelilingi murid-murid polos dan bangunan sekolah yang dikelilingi alam yang masih sehat terjaga.

Lamunan singkat itu buyar saat Pak Irham kembali mengucapkan terima kasih dan maaf karena sudah merepotkan. Kata "maaf" dan "terima kasih" adalah hal yang terlalu sering Hana terima di sekolah ini dari para staf. Bang Kasim segera mengunci ruangan itu agar kebersihannya tetap terjaga.

Baru saja Hana akan menuju kelas, kerut-merut menghiasi wajahnya.

“Mbak Ramlah lihat sepatu saya?” tanya Hana panik.

“Memangnya Ibu taruh di mana?” Ramlah bertanya balik.

Hana berharap bukan itu jawaban Ramlah. Dia yakin menaruh sepatunya di luar ruangan bersebelahan dengan sandal slip on Ramlah. Sayangnya, sepatu itu benar-benar tidak ada.

“Ibu yakin taruh di luar? Nggak ketinggalan di dalam?”

Pertanyaan Ramlah membuat Hana ragu. Jangan-jangan memang tertinggal di ruangan, pikirnya. Beruntung, suami Ramlah bersedia membuka kembali ruangan bakal aula itu. Namun, setajam apa pun penglihatan Hana—dibantu Ramlah dan Kasim—sepatu itu tetap tidak ditemukan di mana pun. Ramlah menawarkan sandalnya demi melihat kegelisahan Hana. Menurut Hana itu buruk. Bagaimana bisa murid-murid diminta mengenakan sepatu, sementara ia memakai sandal. Apalagi saat tahu Ramlah rela memakai alas kaki suaminya yang lebih besar. Dalam keadaan terdesak, memang tidak ada pilihan bagi Hana.

Setelah itu, Hana mengajar di kelas atas. Meski sudah berusaha santai, isi kepalanya tetap mengorek lembar demi lembar memori saat tadi melepas sepatu. Segalanya diperiksa ulang oleh benaknya yang tak henti menggugat.

Hatinya pusang, tapi benaknya mengajak bijak. Dia menatap hampa para murid yang tenggelam dalam tugas, dan membiarkan mereka sibuk dalam sunyi. Mungkin dirinya memang teledor. Mungkin sepatu itu telah terbuang bersama kerdak.

Mungkin... memang waktunya merelakan.

Hana keluar kelas sebelum bel berbunyi. Dia butuh udara segar sebelum situasi kembali ramai. Ini bukan tentang kerepotan membeli sepatu baru yang menggelayut di pikirannya, melainkan tentang kelalaiannya. Tentang keyakinan bahwa selama ini ia teliti, dan cermat dalam bertindak. Hana kembali terpaku di ujung tangga atas. Bisa jadi, secercah kesombongan baru saja menyusup ke hatinya.

Kegelisahannya pun perlahan memudar, larut bersama penerimaan yang pelan datangnya. Angin lembut meniup jilbabnya. Pucuk-pucuk pohon di halaman sekolah menari-nari, tidak seirama dengan batangnya yang tenang. Setenang tiang bendera yang sedang tak berbendera. Hanya ada dua warna hitam, terikat di pertengahannya. Dua-benda-berwarna-hitam.

“Sepatuku!” pekik Hana.

Dia segera berlari menuruni tangga, melewati ruang guru, dan melaju ke arah pinggir lapangan.

“SubhanAllah,” lirihnya, setengah tak percaya.

Kepalanya menengadah, kedua tangan terangkat, terpaku di udara. Sepasang sepatu itu tergantung timpang, terpelintir pada temali bendera.

Dengan cepat, Hana menyentakkan talinya sebelum semua orang menyadari. Satu sepatu melayang lepas, terpelanting menjauhi tiang entah ke mana. Satu lagi masih bertahan di temali. Hana tidak habis pikir, murid mana yang punya ide seaneh itu? Dan bagaimana caranya menaikkan sepasang sepatu ke hampir pertengahan tiang sana? Hana berusaha tenang, meski malu menyelimutinya sesaat. Bagaimanapun, sepatu itu bersifat pribadi, dan barang personalnya sedang dipamerkan di area publik tanpa izin.

Hana menyentakkan tali lebih kuat lagi. Hatinya mengencang, sekencang sebelah tali yang tak mau melepaskan satu sepatunya. Dia tidak ingin membuka simpul tali pada besi. Terlalu lama, terlalu rumit, dan memang tak perlu.

Seorang murid lelaki berlari mendekat. Sepatu yang terlempar—entah ke mana tadi—ditemukannya. Dengan tenang, diletakkannya di dekat kaki Hana.

Lalu, tanpa banyak bicara, Halim—murid itu—menggoyang tali bendera berulang kali, hingga sepatu yang tersisa akhirnya jatuh juga. Dengan cekatan, ia menyatukan sepasang sepatu hitam itu, lalu meletakkannya rapi di depan Hana.

Hana memandang Halim dengan tatapan tidak suka, curiga bahwa dialah dalang di balik sepatu yang tergantung itu. Halim, seakan membaca gurat kecewa di wajah gurunya, mengangkat telunjuk—menunjuk seseorang di belakangnya. Marlan.

Pemuda berambut ikal itu sempat menyunggingkan senyum, tetapi senyum itu gugur ketika matanya bertemu sorot Hana yang menolak tawa. Tanpa sepatah teguran pun, Hana membalikkan badan, memburu langkah menuju ruang guru, diikuti Marlan yang tergopoh berlari di belakang.

“Bu—Bu, maaf, Bu. Tolong jangan laporkan aku,” serunya setiba di ruang guru.

“Aku baru dikeluarkan dari sekolah sebelumnya. Jangan sampai aku dikeluarkan lagi. Kalau dikeluarkan dari sini, nggak ada lagi sekolah yang mau menerimaku. Ini sekolah terakhir buatku.”

Hana yang masih kesal, langsung duduk di kursinya dengan cepat. Tanpa aba-aba, Marlan juga menarik kursi untuk duduk di depan meja Hana.

“Tapi, keisenganmu ini buat apa, Marlan?” tanya Hana, kecewa tapi berusaha tetap lembut.

“Maaf, Bu. Aku nggak tahu juga kenapa aku begitu,” ujarnya lirih.

Benar, sering kali perbuatan iseng dilakukan tanpa alasan, kecuali karena terlihat menyenangkan di mata pelakunya. Perbuatan yang ingin diisi dengan sesuatu, walau hanya tawa sementara. Pemuda itu iseng membuat coretan tak layak, lalu iseng mengambil sepatu itu saat Hana mengepel ruangan bakal aula. Mungkin ia terlalu kreatif. Mungkin tanpa sadar ingin mengajak orang menyukai kreativitasnya, tanpa memiliki batas benar dan salah.

“Plis, Bu. Jangan diam. Suruh aku apa kek atau kasih hukuman. Yang penting jangan dilaporkan,” ucapnya memelas.

Marlan membenamkan wajah ke telapak tangannya, seperti mencari perlindungan dari penyesalan. Namun, Hana tidak berkata apa-apa. Hanya tatapannya yang menilai, tanpa suara. Tangan Hana menarik catatan dari tas, ingin sibuk dengan pena dan mengabaikan pemuda di depannya.

Saat itu, Bu Siswati masuk tergopoh. Tangannya langsung merogoh laci meja, mencari sesuatu. Cutter. Di belakangnya, tiga pemuda dari kelas XII ikut masuk, wajah penasaran menyapu ruang.

“Marlan! Ngapain kamu di ruang guru?” tanya salah satu. Marlan melengos, enggan menjawab.

“Ini sudah hari ke berapa, Nak? Atribut sekolah kan sudah dibagikan. Kenapa belum dipasang? Malu? Malu kalian ketahuan sekolah di sini?!” suara Bu Siswati naik, nadanya tajam.

“Nggak gitu, Bu.”

“Iya sih, Bu.”

“Eh, eh. Ibu mau ngapain? Jangan disilet aku, Bu!”

Murid itu berusaha menghindar, tubuhnya gesit, seolah benar-benar hendak diserang. Padahal Bu Siswati hanya ingin menyerahkan cutter, tak lebih. Adegan itu berubah jadi seperti permainan kejar-kejaran.

“Apaan, sih! Ngapain lari? Ini ambil cutter-nya. Robek dulu atribut yang lama itu,” ujar Bu Siswati, gusar tapi jengah.

“Nggak bisa lah, Bu. Gimana caranya aku kupas atribut di bahuku? Nah, nah. Susah kan, Bu? Masak aku harus buka baju di sini,” dalihnya, dengan nada yang lebih lucu dari serius. Gerak tubuhnya menirukan betapa ripuh ia harus merantas, sambil terus-terusan menengok ke bahu.

“Kalau gitu, sini. Biar Ibu yang lepasin!” seru Bu Siswati, melangkah mendekati ketiga murid yang justru makin menjauh, seperti anak-anak kecil yang tahu sedang bermain-main dengan batas kesabaran guru.

Hana yang sejak tadi tenggelam dalam catatan materi ajarnya, sesekali melirik Marlan yang senang melihat adegan di ruangan itu. Pemuda itu tampak berusaha keras menahan tawa, tapi ketika sadar sedang diperhatikan, buru-buru menunduk.

“Jangan, Bu! Jangan dekat-dekat. Aku lelaki. Punya malu lah, Bu,” seru salah satu dari mereka, mencoba berlindung pada sopan santun.

“Apaan sih! Emang Ibu mau ngapain?!” suara Bu Siswati naik satu oktaf, penuh jengkel.

Ketiga pemuda itu berpencar, berlari menghindari Bu Siswati.

Punggung kursi Hana terantuk oleh salah seorang dari mereka.

“Nah, kalau Ibu yang ini… bolehlah,” ujar seorang di antaranya, sambil menunjuk ke arah Hana.

“Ibu Hana aja yang robek, Bu,” pinta yang lain, suara mereka mengundang geli.

“Nggak boleh! Kalian nggak boleh ganggu Bu Hana seenaknya,” potong Bu Siswati dengan nada garang.

Hana pun berdiri. Tangannya terulur meminta cutter dari Bu Siswati.

Tatapannya tenang, suaranya ringan, seolah hendak membuyarkan keraguan orang-orang di ruangan itu.

“Memang kalian malu dengan sekolah ini?” tanyanya santai.

“Ada sih malunya, Bu,” jawab mereka jujur.

Hana mengangguk pelan. Bisa jadi rasa malu itu bukan semata karena sekolahnya, tapi karena mereka belum merasa memiliki tempat ini sepenuhnya.

“Hmm, gitu.” Hana menyahut. “Sini, mana yang mau dilepas?”

Tiga pasang mata saling menoleh, heran. Tak menyangka bahwa Hana menerima permintaan mereka tanpa syarat, tanpa perdebatan, tanpa gerutu, tanpa kritik. Dengan ragu-ragu, mereka menyorongkan bahu ke arah Hana.

“Wah, jahitannya memang kuat,” ujar Hana, jujur menyadari. Hanya dengan melihat dengan jeli, ia tahu bahwa atribut berupa nama dan logo sekolah lama mereka itu dijahit sangat kuat pada seragam.

“Nah, Itu yang kumaksud. Emang susah kan, Bu? Makanya ndak kuganti,” kilah seorang murid.

“Alasan!” Bu Siswati terlihat geregetan.

Mungkin memang alasan. Jelas sekali atribut itu menyatakan bahwa mereka berasal dari sekolah ternama sebelumnya. Wajar jika mereka belum siap melepasnya.

Hana mengamati kain itu dengan pasti, memastikan jahitan yang ia lihat. Tangannya terangkat, membawa cutter ke udara, ringan tapi tegas.

“Marlan,” panggil Hana, suaranya tenang, berisi perintah yang tak bisa diabaikan.

“Rantas semua ini pelan-pelan.”

Marlan pun dengan cepat maju dan mengambil cutter dari Hana.

Wajah Bu Siswati berangsur senang melihat ketiganya tercengang dan Hana melenggang tanpa menyentuh anak-anak itu.

 

[ ]

 

Sejak tragedi sepatu itu, Marlan menjelma menjadi sosok yang sigap setiap kali Hana tampak membutuhkan bantuan. Selama tiga hari berturut-turut, ia datang menghampiri Hana, baik saat waktu istirahat, saat baru menginjakkan kaki di sekolah, bahkan saat jam kosong. Namun kenyataannya, Hana tak pernah memanggilnya.

Pemuda itu duduk begitu saja di depan Hana tanpa banyak bicara. Hana tak benar-benar mengerti maksud kedatangannya. Apakah Marlan hendak memastikan bahwa rahasianya aman, atau tengah menanti hukuman yang belum dijatuhkan? Marlan tak menjelaskan. Pun tak mengulang permintaan maaf, tak pula bertanya tentang sanksi. Bahkan setelah tugas darinya selesai, pemuda berkulit sawo matang dengan rambut ikal itu kembali muncul, dan diam-diam masuk ke ruang guru, duduk di sana, memandangi Hana, seolah menunggu sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.

Paling-paling Marlan akan bertanya, “Ibu baca apa?” —saat Hana tenggelam dalam buku non-pelajaran. Atau, “Ibu punya saudara?” —ketika ruang guru hangat oleh obrolan keluarga, dan Hana ikut mengomentari. Hana hanya menjawab seperlunya. Kadang, cukup dengan deham. Bahkan saat Marlan bertanya, “Ibu lagi apa?” —Pak Hamdan yang justru menanggapi, “Bu Hana sedang menyendoki Danau Kelimutu. Hah! Sudah jelas di depanmu, dia sedang menulis.”

Hingga hari ketiga, barulah Hana bicara panjang padanya.

“Marlan, saya sudah memaafkanmu soal insiden sepatu itu, dan tidak akan melaporkanmu. Juga coretan di papan tulis yang kamu buat, selama kamu enggak mengulanginya. Saya hanya enggak habis pikir, kenapa kamu taruh sepatu di tiang bendera. Ti-ang-ben-de-ra..”

Sebenarnya, Hana juga ingin menambahkan:

Kamu pikir, tu sepatu bisa berkibar-kibar di angkasa?

Namun, yang meluncur hanyalah, “Sekarang, kamu kembali saja ke kelasmu. Tidak perlu menghadap saya setiap hari.”

Marlan menatap Hana, bimbang.

“Bu... Aku tahu Ibu sudah maafkan itu. Tapi—” katanya pelan, berbisik, sambil menoleh ke sekeliling.

“Tapi apa, Marlan?” tanya Hana, ikut berbisik.

“Kayaknya aku senang duduk di kantor ini. Di sekolahku yang dulu, kantor guru nggak menerima murid yang nggak berkepentingan begini. Di sini seru ya, Bu,” ujarnya, dengan mata takjub.

 

[ ]

 



[7] “Wah, tidak enak kalau tidak lengkap. Cobalah tanyakan ke Ibumu.”

[8] “Hana nggak kerja kah?”

Comments