“Ini
lengkapkah sudah bumbunya? Bekapulagalah?
Bekembang lawang, gaganti, adas manis?”
“Ibuk
cuma bilang lengkap, Nek. Ndak bilang detailnya,” ucap Hana menyerahkan
bungkusan pada Neneknya.
“Ay, kada nyaman amun kada utuh. Coba pang
takuni Mamak ikam.” [7]
Hana
menyerahkan ponselnya setelah terdengar suara Ibuk dari seberang. Nenek duduk
tenang di dalam rumah, menanyakan perihal bumbu soto Banjar, sementara Hana
bersandar di bangku rotan panjang di teras rumah.
Nenek
memiliki tiga anak lelaki. Anak pertama tinggal di luar kota, anak kedua adalah
ayah Hana, dan anak ketiga meninggal sewaktu kecil. Rumah nenek merupakan
bangunan tua dengan sentuhan khas era Belanda. Sehari-hari, Nenek hanya sendiri
di rumah itu. Nenek tidak mau diajak tinggal bersama Ibuk, atau anaknya yang
lain. Rumah itu punya banyak kenangan, dan Nenek memilih hidup bersama
kenangannya. Lingkungan tempat tinggal Nenek juga nyaman, dan bisa memberikan
keamanan. Bagi Nenek, selama Ibuk masih sering mampir dan menengoknya, maka itu
sudah cukup.
Setelah
menuntaskan obrolan dengan Ibuk di telepon, Nenek berjalan tertatih ke arah
teras. Wajahnya menunjukkan rasa puas.
“Hana
kada begawi kah?”[8]
tanya Nenek.
“Ini
Minggu, Nek,” balas Hana.
“Nah,
iya ya. Nenek lupa. Kayak apa kerjaanmu? Nyaman aja kah?” tanya Nenek lagi.
“Alhamdulillah.
Nyaman aja,” kata Hana.
“Pokoknya
sabar-sabar aja. Abahmu dulu kerja dari bawah juga,” kata Nenek. Maksudnya,
anak-anaknya selalu merintis karier dari bawah, dan menurut Nenek hal itu tidak
masalah sama sekali.
Hana
membantu Nenek berjalan ke bangku rotan, meski Nenek merasa cukup kuat.
"Lama sudah
Abahmu ndak ada, ya. Kalau ada dia, pasti tiap hari ke sini. Jenguk Nenek, ajak
jalan-jalan."
Hana mengiyakan
itu. Dia juga ingin mengajak Nenek jalan-jalan. Mungkin nanti, kalau ia sudah
gajian.
[ ]
“Iya.
Sherli, Anita, Gina.”
Sepanjang
koridor SMA, Hana menyapa anak-anak. Dia sudah berjanji akan mengingat
nama-nama mereka. Anehnya, kelas yang sering bermasalah justru paling mudah
diingat, seperti kelas XII dan XI, sementara nama-nama murid di kedua kelas X
sempat terbata-bata di memori Hana. Murid perempuan lebih cepat ia ingat,
karena jumlah mereka yang sedikit. Mereka juga lebih ramah, lebih penurut.
Hal
unik yang Hana temukan di sekolah itu adalah: para murid perempuan hanya akan
berkelompok berdasarkan kelas mereka, sementara murid laki-laki mengabaikan
unsur kelas dan usia. Tidak ada senioritas di antara mereka. Kalau mau kumpul,
ya kumpul saja.
“Apa
kabar, Jamal, Bandi, Mulanggar?” sapa Hana.
Para
murid laki-laki itu menjadi berisik karena tidak menyangka Hana tahu nama
mereka.
“Fendi,
Guntur, Junaedi, permisi ya.”
Kadang
anak-anak berkumpul semaunya, bahkan di tengah koridor pun mereka menggelar
obrolan.
“Ih,
dia tahu namaku.”
“Pasti
diingat namamu, kamu berandalan.”
“Kayak
kamu nggak!”
Hana
mendengarkan sembari melanjutkan langkah. Matanya menyisir keadaan. Beberapa
anak laki-laki memakai anting, dan hanya sedikit yang segera melepasnya ketika
Hana lewat. Sementara itu, sebagian menatap Hana seakan menantang—seolah yang
lewat barusan bukanlah seorang guru, melainkan anak tetangga. Mereka juga lebih
berani membincangkan Hana di dekatnya, dengan mengganti sebutan ‘Ibu Hana’ menjadi
‘dia’. Bagaimanapun, setiap kelas punya atmosfer dan tantangan yang berbeda.
Hana juga tidak buru-buru mendatangi pemiik wajah-wajah yang menantang itu, dan
memutuskan untuk menyampaikan nama-nama mereka pada wali kelas serta
mendiskusikan perilaku kedisiplinan semata.
Siang
itu, tidak banyak guru yang duduk di ruang guru. Sepertinya masing-masing sudah
memiliki kesibukan di tempat lain, sehingga datang hanya sesuai jadwal mereka
saja. Hana memiliki jadwal ajar beberapa jam lagi. Dia senang bisa datang lebih
awal, untuk mempersiapkan materi atau membaca situasi kelas. Alasan lain:
karena harus bergantian kendaraan dengan Ibuk.
Bang
Kasim yang melihat Hana tidak memasuki kelas, tiba-tiba meminta bantuannya
untuk membersihkan aula. Hana baru tahu kalau SMA memiliki aula. Rupanya itu
adalah kelas kosong yang dipenuhi kursi sara bara, tumpukan poster dan prakarya
rusak, serta—sudah pasti—debu.
Pak
Irham sudah berada di ruangan itu untuk memindahkan kursi.
"Bu
Hana? Alhamdulillah, ada yang bisa bantu. Begini, Pak Ghozali dan saya
berencana membuat ruangan ini menjadi aula, Bu. Insya Allah kita bisa pakai
saat Ramadan tiba. Tadinya saya pikir ruangan ini cuma debu saja masalahnya.
Ternyata—" Pak Irham tidak melanjutkan pernyataannya, karena Hana sudah
bisa melihat kekacauan dalam ruangan itu.
Bang
Kasim mengusulkan agar beberapa murid lelaki diperbantukan jika ingin lekas
selesai, mengingat Pak Irham dan Hana memiliki jadwal ajar nantinya.
Tiga
orang murid laki-laki pun tiba: Zul dan Bandi dari kelas XI, serta Marlan dari
kelas XII. Murid dari kedua kelas X tidak mendapat izin keluar. Hana hanya
ditemani Ramlah untuk membereskan barang-barang ringan yang berserakan,
menyapu, mengelap debu, hingga mengepel lantai.
Para
murid lelaki mengusulkan agar kursi ditumpuk menjulang saja, daripada
dikeluarkan, karena tidak ada tempat untuk menyimpannya di luar. Pak Irham
menyetujui ide itu.
Kerja
bakti dadakan itu justru terasa menyegarkan bagi semua, apalagi Ramlah
menyiapkan bingka, mageli, dan es jeruk.
"Kalian
senang bantu Bapak bukan karena nggak belajar, kan?" tanya Pak Irham.
"Nggak
dong, Pak!" sahut mereka serempak.
Entah
benar atau tidak, bukan hal yang perlu digali. Sembari bekerja, ketiga bocah
itu mengisinya dengan kelakar dan bermain peran. Mereka berlagak menjadi
ksatria dengan sapu sebagai pedang, menjadi raja yang duduk di singgasana tumpukan
kursi, atau pelayan dengan kain di bahu. Hana dengan terpaksa ‘menebas’ gagang
sapu Marlan, karena pemuda itu sedang memasang kuda-kuda untuk mengayun
‘pedang’ di depan Hana. Pak Irham dan Kasim bergantian mengumpulkan sampah dari
barang-barang rusak tak terpakai. Tibalah bagian akhir pembersihan ruangan,
yakni mengepel lantai. Hana dan Ramlah seketika melepas alas kaki mereka. Sementara
itu, ketiga murid diminta kembali ke kelas masing-masing.
Meski
melelahkan, bagi Hana kegiatan itu terasa memuaskan. Dulu, ia pernah memiliki
bayangan tentang mengajar di desa terpencil, dikelilingi murid-murid polos dan
bangunan sekolah yang dikelilingi alam yang masih sehat terjaga.
Lamunan
singkat itu buyar saat Pak Irham kembali mengucapkan terima kasih dan maaf karena
sudah merepotkan. Kata "maaf" dan "terima kasih" adalah hal
yang terlalu sering Hana terima di sekolah ini dari para staf. Bang Kasim
segera mengunci ruangan itu agar kebersihannya tetap terjaga.
Baru
saja Hana akan menuju kelas, kerut-merut menghiasi wajahnya.
“Mbak
Ramlah lihat sepatu saya?” tanya Hana panik.
“Memangnya
Ibu taruh di mana?” Ramlah bertanya balik.
Hana
berharap bukan itu jawaban Ramlah. Dia yakin menaruh sepatunya di luar ruangan
bersebelahan dengan sandal slip on
Ramlah. Sayangnya, sepatu itu benar-benar tidak ada.
“Ibu
yakin taruh di luar? Nggak ketinggalan di dalam?”
Pertanyaan
Ramlah membuat Hana ragu. Jangan-jangan memang tertinggal di ruangan, pikirnya.
Beruntung, suami Ramlah bersedia membuka kembali ruangan bakal aula itu. Namun,
setajam apa pun penglihatan Hana—dibantu Ramlah dan Kasim—sepatu itu tetap
tidak ditemukan di mana pun. Ramlah menawarkan sandalnya demi melihat
kegelisahan Hana. Menurut Hana itu buruk. Bagaimana bisa murid-murid diminta
mengenakan sepatu, sementara ia memakai sandal. Apalagi saat tahu Ramlah rela
memakai alas kaki suaminya yang lebih besar. Dalam keadaan terdesak, memang
tidak ada pilihan bagi Hana.
Setelah
itu, Hana mengajar di kelas atas. Meski sudah berusaha santai, isi kepalanya
tetap mengorek lembar demi lembar memori saat tadi melepas sepatu. Segalanya
diperiksa ulang oleh benaknya yang tak henti menggugat.
Hatinya
pusang, tapi benaknya mengajak bijak. Dia menatap hampa para murid yang
tenggelam dalam tugas, dan membiarkan mereka sibuk dalam sunyi. Mungkin dirinya
memang teledor. Mungkin sepatu itu telah terbuang bersama kerdak.
Mungkin... memang waktunya merelakan.
Hana
keluar kelas sebelum bel berbunyi. Dia butuh udara segar sebelum situasi
kembali ramai. Ini bukan tentang kerepotan membeli sepatu baru yang menggelayut
di pikirannya, melainkan tentang kelalaiannya. Tentang keyakinan bahwa selama
ini ia teliti, dan cermat dalam bertindak. Hana kembali terpaku di ujung tangga
atas. Bisa jadi, secercah kesombongan baru saja menyusup ke hatinya.
Kegelisahannya
pun perlahan memudar, larut bersama penerimaan yang pelan datangnya. Angin
lembut meniup jilbabnya. Pucuk-pucuk pohon di halaman sekolah menari-nari,
tidak seirama dengan batangnya yang tenang. Setenang tiang bendera yang sedang
tak berbendera. Hanya ada dua warna hitam, terikat di pertengahannya. Dua-benda-berwarna-hitam.
“Sepatuku!” pekik Hana.
Dia segera berlari menuruni tangga, melewati ruang
guru, dan melaju ke arah pinggir lapangan.
“SubhanAllah,” lirihnya, setengah tak percaya.
Kepalanya menengadah, kedua tangan terangkat,
terpaku di udara. Sepasang sepatu itu tergantung timpang, terpelintir pada
temali bendera.
Dengan cepat, Hana menyentakkan talinya sebelum
semua orang menyadari. Satu sepatu melayang lepas, terpelanting menjauhi tiang
entah ke mana. Satu lagi masih bertahan di temali. Hana tidak habis pikir,
murid mana yang punya ide seaneh itu? Dan bagaimana caranya menaikkan sepasang
sepatu ke hampir pertengahan tiang sana? Hana berusaha tenang, meski malu
menyelimutinya sesaat. Bagaimanapun, sepatu itu bersifat pribadi, dan barang
personalnya sedang dipamerkan di area publik tanpa izin.
Hana menyentakkan tali lebih kuat lagi. Hatinya
mengencang, sekencang sebelah tali yang tak mau melepaskan satu sepatunya. Dia
tidak ingin membuka simpul tali pada besi. Terlalu lama, terlalu rumit, dan
memang tak perlu.
Seorang murid lelaki berlari mendekat. Sepatu yang
terlempar—entah ke mana tadi—ditemukannya. Dengan tenang, diletakkannya di
dekat kaki Hana.
Lalu,
tanpa banyak bicara, Halim—murid itu—menggoyang tali bendera berulang kali,
hingga sepatu yang tersisa akhirnya jatuh juga. Dengan cekatan, ia menyatukan
sepasang sepatu hitam itu, lalu meletakkannya rapi di depan Hana.
Hana
memandang Halim dengan tatapan tidak suka, curiga bahwa dialah dalang di balik
sepatu yang tergantung itu. Halim, seakan membaca gurat kecewa di wajah
gurunya, mengangkat telunjuk—menunjuk seseorang di belakangnya. Marlan.
Pemuda
berambut ikal itu sempat menyunggingkan senyum, tetapi senyum itu gugur ketika
matanya bertemu sorot Hana yang menolak tawa. Tanpa sepatah teguran pun, Hana
membalikkan badan, memburu langkah menuju ruang guru, diikuti Marlan yang
tergopoh berlari di belakang.
“Bu—Bu,
maaf, Bu. Tolong jangan laporkan aku,” serunya setiba di ruang guru.
“Aku
baru dikeluarkan dari sekolah sebelumnya. Jangan sampai aku dikeluarkan lagi.
Kalau dikeluarkan dari sini, nggak ada lagi sekolah yang mau menerimaku. Ini
sekolah terakhir buatku.”
Hana
yang masih kesal, langsung duduk di kursinya dengan cepat. Tanpa aba-aba,
Marlan juga menarik kursi untuk duduk di depan meja Hana.
“Tapi,
keisenganmu ini buat apa, Marlan?” tanya Hana, kecewa tapi berusaha tetap
lembut.
“Maaf,
Bu. Aku nggak tahu juga kenapa aku begitu,” ujarnya lirih.
Benar,
sering kali perbuatan iseng dilakukan tanpa alasan, kecuali karena terlihat
menyenangkan di mata pelakunya. Perbuatan yang ingin diisi dengan sesuatu, walau
hanya tawa sementara. Pemuda itu iseng membuat coretan tak layak, lalu iseng
mengambil sepatu itu saat Hana mengepel ruangan bakal aula. Mungkin ia terlalu
kreatif. Mungkin tanpa sadar ingin mengajak orang menyukai kreativitasnya,
tanpa memiliki batas benar dan salah.
“Plis,
Bu. Jangan diam. Suruh aku apa kek atau kasih hukuman. Yang penting jangan
dilaporkan,” ucapnya memelas.
Marlan
membenamkan wajah ke telapak tangannya, seperti mencari perlindungan dari
penyesalan. Namun, Hana tidak berkata apa-apa. Hanya tatapannya yang menilai,
tanpa suara. Tangan Hana menarik catatan dari tas, ingin sibuk dengan pena dan
mengabaikan pemuda di depannya.
Saat
itu, Bu Siswati masuk tergopoh. Tangannya langsung merogoh laci meja, mencari
sesuatu. Cutter. Di belakangnya, tiga
pemuda dari kelas XII ikut masuk, wajah penasaran menyapu ruang.
“Marlan!
Ngapain kamu di ruang guru?” tanya salah satu. Marlan melengos, enggan
menjawab.
“Ini
sudah hari ke berapa, Nak? Atribut sekolah kan sudah dibagikan. Kenapa belum
dipasang? Malu? Malu kalian ketahuan sekolah di sini?!” suara Bu Siswati naik,
nadanya tajam.
“Nggak
gitu, Bu.”
“Iya
sih, Bu.”
“Eh,
eh. Ibu mau ngapain? Jangan disilet aku, Bu!”
Murid
itu berusaha menghindar, tubuhnya gesit, seolah benar-benar hendak diserang.
Padahal Bu Siswati hanya ingin menyerahkan cutter,
tak lebih. Adegan itu berubah jadi seperti permainan kejar-kejaran.
“Apaan,
sih! Ngapain lari? Ini ambil cutter-nya. Robek dulu atribut yang lama itu,”
ujar Bu Siswati, gusar tapi jengah.
“Nggak
bisa lah, Bu. Gimana caranya aku kupas atribut di bahuku? Nah, nah. Susah kan,
Bu? Masak aku harus buka baju di sini,” dalihnya, dengan nada yang lebih lucu
dari serius. Gerak tubuhnya menirukan betapa ripuh ia harus merantas, sambil
terus-terusan menengok ke bahu.
“Kalau
gitu, sini. Biar Ibu yang lepasin!” seru Bu Siswati, melangkah mendekati ketiga
murid yang justru makin menjauh, seperti anak-anak kecil yang tahu sedang
bermain-main dengan batas kesabaran guru.
Hana
yang sejak tadi tenggelam dalam catatan materi ajarnya, sesekali melirik Marlan
yang senang melihat adegan di ruangan itu. Pemuda itu tampak berusaha keras
menahan tawa, tapi ketika sadar sedang diperhatikan, buru-buru menunduk.
“Jangan,
Bu! Jangan dekat-dekat. Aku lelaki. Punya malu lah, Bu,” seru salah satu dari
mereka, mencoba berlindung pada sopan santun.
“Apaan
sih! Emang Ibu mau ngapain?!” suara Bu Siswati naik satu oktaf, penuh jengkel.
Ketiga
pemuda itu berpencar, berlari menghindari Bu Siswati.
Punggung
kursi Hana terantuk oleh salah seorang dari mereka.
“Nah,
kalau Ibu yang ini… bolehlah,” ujar seorang di antaranya, sambil menunjuk ke
arah Hana.
“Ibu
Hana aja yang robek, Bu,” pinta yang lain, suara mereka mengundang geli.
“Nggak
boleh! Kalian nggak boleh ganggu Bu Hana seenaknya,” potong Bu Siswati dengan
nada garang.
Hana
pun berdiri. Tangannya terulur meminta cutter
dari Bu Siswati.
Tatapannya
tenang, suaranya ringan, seolah hendak membuyarkan keraguan orang-orang di
ruangan itu.
“Memang
kalian malu dengan sekolah ini?” tanyanya santai.
“Ada
sih malunya, Bu,” jawab mereka jujur.
Hana
mengangguk pelan. Bisa jadi rasa malu itu bukan semata karena sekolahnya, tapi
karena mereka belum merasa memiliki tempat ini sepenuhnya.
“Hmm,
gitu.” Hana menyahut. “Sini, mana yang mau dilepas?”
Tiga
pasang mata saling menoleh, heran. Tak menyangka bahwa Hana menerima permintaan
mereka tanpa syarat, tanpa perdebatan, tanpa gerutu, tanpa kritik. Dengan ragu-ragu,
mereka menyorongkan bahu ke arah Hana.
“Wah,
jahitannya memang kuat,” ujar Hana, jujur menyadari. Hanya dengan melihat
dengan jeli, ia tahu bahwa atribut berupa nama dan logo sekolah lama mereka itu
dijahit sangat kuat pada seragam.
“Nah,
Itu yang kumaksud. Emang susah kan, Bu? Makanya ndak kuganti,” kilah seorang
murid.
“Alasan!”
Bu Siswati terlihat geregetan.
Mungkin
memang alasan. Jelas sekali atribut itu menyatakan bahwa mereka berasal dari
sekolah ternama sebelumnya. Wajar jika mereka belum siap melepasnya.
Hana
mengamati kain itu dengan pasti, memastikan jahitan yang ia lihat. Tangannya
terangkat, membawa cutter ke udara,
ringan tapi tegas.
“Marlan,”
panggil Hana, suaranya tenang, berisi perintah yang tak bisa diabaikan.
“Rantas
semua ini pelan-pelan.”
Marlan
pun dengan cepat maju dan mengambil cutter
dari Hana.
Wajah
Bu Siswati berangsur senang melihat ketiganya tercengang dan Hana melenggang
tanpa menyentuh anak-anak itu.
[ ]
Sejak
tragedi sepatu itu, Marlan menjelma menjadi sosok yang sigap setiap kali Hana
tampak membutuhkan bantuan. Selama tiga hari berturut-turut, ia datang
menghampiri Hana, baik saat waktu istirahat, saat baru menginjakkan kaki di
sekolah, bahkan saat jam kosong. Namun kenyataannya, Hana tak pernah
memanggilnya.
Pemuda
itu duduk begitu saja di depan Hana tanpa banyak bicara. Hana tak benar-benar
mengerti maksud kedatangannya. Apakah Marlan hendak memastikan bahwa rahasianya
aman, atau tengah menanti hukuman yang belum dijatuhkan? Marlan tak
menjelaskan. Pun tak mengulang permintaan maaf, tak pula bertanya tentang
sanksi. Bahkan setelah tugas darinya selesai, pemuda berkulit sawo matang
dengan rambut ikal itu kembali muncul, dan diam-diam masuk ke ruang guru, duduk
di sana, memandangi Hana, seolah menunggu sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Paling-paling
Marlan akan bertanya, “Ibu baca apa?” —saat Hana tenggelam dalam buku
non-pelajaran. Atau, “Ibu punya saudara?” —ketika ruang guru hangat oleh
obrolan keluarga, dan Hana ikut mengomentari. Hana hanya menjawab seperlunya. Kadang,
cukup dengan deham. Bahkan saat Marlan bertanya, “Ibu lagi apa?” —Pak Hamdan
yang justru menanggapi, “Bu Hana sedang menyendoki Danau Kelimutu. Hah! Sudah
jelas di depanmu, dia sedang menulis.”
Hingga
hari ketiga, barulah Hana bicara panjang padanya.
“Marlan,
saya sudah memaafkanmu soal insiden sepatu itu, dan tidak akan melaporkanmu.
Juga coretan di papan tulis yang kamu buat, selama kamu enggak mengulanginya.
Saya hanya enggak habis pikir, kenapa kamu taruh sepatu di tiang bendera. Ti-ang-ben-de-ra..”
Sebenarnya,
Hana juga ingin menambahkan:
Kamu pikir, tu sepatu bisa berkibar-kibar di angkasa?
Namun,
yang meluncur hanyalah, “Sekarang, kamu kembali saja ke kelasmu. Tidak perlu
menghadap saya setiap hari.”
Marlan
menatap Hana, bimbang.
“Bu...
Aku tahu Ibu sudah maafkan itu. Tapi—” katanya pelan, berbisik, sambil menoleh
ke sekeliling.
“Tapi
apa, Marlan?” tanya Hana, ikut berbisik.
“Kayaknya
aku senang duduk di kantor ini. Di sekolahku yang dulu, kantor guru nggak
menerima murid yang nggak berkepentingan begini. Di sini seru ya, Bu,” ujarnya,
dengan mata takjub.
[ ]
Comments
Post a Comment